Naskah Kajian Data & Kriminologi Arsip Publik
FAKTA SOSIAL

Mayoritas Pelaku Kejahatan adalah Laki-laki. Itu Bukan Opini.

Data global, jejak sejarah, dan mengapa pembenahan diri laki-laki bukan opsi — melainkan pekerjaan yang jatuh ke pangkuan mereka.

Ada pertanyaan yang terdengar kasar, tapi terus muncul karena orang merasakannya di jalan, di berita, dan di ruang sidang: apakah kekacauan yang berdarah di dunia ini mayoritas dibuat laki-laki? Jawaban singkatnya: untuk kejahatan yang merusak, iya. Untuk semua pelanggaran dari yang paling kecil sampai yang paling besar, angkanya lebih rendah, tapi tetap mayoritas laki-laki.

Yang perlu dibedakan sejak awal adalah ini. “Semua laki-laki jahat” adalah omong kosong. “Pelaku kejahatan serius didominasi laki-laki” adalah fakta yang muncul berulang di hampir setiap negara yang punya data.

Angka yang Keras

Menurut Global Study on Homicide UNODC 2023, sekitar 90 persen tersangka pembunuhan yang masuk ke sistem peradilan pidana adalah laki-laki. Delapan puluh satu persen korbannya juga laki-laki. Pola ini muncul di hampir semua kawasan. Perempuan lebih sering menjadi korban di rumah dan oleh pasangan intim, tapi pelaku pembunuhan secara keseluruhan tetap didominasi laki-laki.

Kejahatan kekerasan lain mengikuti pola yang sama. Di Inggris, laki-laki mencakup 98 persen penuntutan untuk kejahatan seksual, 91 persen perampokan, dan 84 persen kekerasan terhadap orang. Di Amerika Serikat, perempuan melakukan sekitar 20 persen kejahatan kekerasan dan 37 persen kejahatan harta benda. Secara global, sekitar 93 persen penghuni penjara adalah laki-laki.

Perang memperkuat gambar yang sama. Sepanjang sejarah, hampir semua kombatan dan inisiator perang adalah laki-laki. Itu bukan berarti setiap laki-laki adalah prajurit. Mayoritas laki-laki tidak pernah mengangkat senjata. Yang relevan adalah: di antara orang yang memang mengangkat senjata dan merencanakan perang, laki-laki jauh lebih banyak.

“Di antara orang yang memang mengangkat senjata dan merencanakan perang, laki-laki jauh lebih banyak. Yang relevan bukanlah menyamaratakan seluruh kaum pria, melainkan mengakui ke mana arah dominasi kekerasan terorganisir itu bermuara.”

Kalau Semua Pelanggaran Dijumlahkan

Begitu cakupannya dilebarkan ke semua jenis pelanggaran hukum — dari tilang, pencurian kecil, penipuan ringan, hingga pembunuhan — angka 90 persen menjadi terlalu tinggi. Di Amerika Serikat, sekitar tiga dari empat orang yang ditangkap adalah laki-laki. Di Inggris, 84 persen yang ditangkap laki-laki. Di Jepang, perempuan biasanya sekitar 20 persen pelaku pidana.

Pembulatan yang lebih jujur untuk keseluruhan kejahatan tercatat adalah 80 persen ke atas. Semakin berat dan semakin berdarah suatu kejahatan, semakin lebar jurangnya. Semakin ringan dan administratif, semakin banyak perempuan masuk ke dalam angka.

Naskah Analisis Data & Perilaku 1
Naskah Kajian Data & Kriminologi Arsip Publik

Itu sebabnya generalisasi “90 persen semua kejahatan” terasa berlebihan, sementara generalisasi “mayoritas pelaku kejahatan serius adalah laki-laki” tidak. Orang merasakan yang kedua, bukan yang pertama.

Bukan Dalih “Perempuan Juga”

Selalu ada pengecualian. Ada perempuan yang kejam. Ada ratu yang membawa negaranya ke perang. Ada ibu yang membunuh anaknya. Itu nyata. Tapi pengecualian tidak boleh dipakai untuk mengaburkan mayoritas. Dari zaman ke zaman, perang dirancang, diperintahkan, dan dijalankan laki-laki. Kerajaan ditaklukkan laki-laki. Perbudakan dijalankan laki-laki. Genosida, perampokan massal, perkosaan sebagai senjata perang, kartel, teror — pelakunya secara sah, sadar, dan berulang adalah kaum laki-laki.

Mengatakan “perempuan juga bisa salah” sebagai penutup adalah cara halus untuk lari. Ya, manusia bisa salah. Tapi sejarah kekerasan terorganisir bukan pekerjaan bersama yang adil. Itu pekerjaan yang mayoritas dibuat, direncanakan, dan dilakukan laki-laki. Menyamaratakan tanggung jawab justru tidak jujur pada data dan pada arsip sejarah.

Mengapa Polanya Begitu Konsisten

Penjelasan yang paling tidak dramatis biasanya paling dekat. Rata-rata laki-laki memiliki tingkat agresivitas fisik, pengambilan risiko, dan kompetisi status yang lebih tinggi. Testosteron bukan takdir, tapi juga bukan hiasan. Ditambah struktur sosial yang lama menempatkan laki-laki di medan perang, di geng, di pasar gelap, dan di posisi yang memberi akses pada senjata, jurangnya menjadi sangat lebar.

Faktor sosial juga bekerja. Laki-laki lebih sering didorong untuk menyelesaikan konflik dengan kekuatan. Perempuan lebih sering dikontrol secara sosial sejak kecil. Ketika kontrol itu longgar dan kesempatan kriminal terbuka, angka kejahatan perempuan naik di beberapa kategori, tapi jarang menyusul kejahatan kekerasan berat.

Yang penting: penjelasan biologis dan sosial tidak saling meniadakan. Keduanya bisa benar sekaligus. Yang tidak benar adalah menyangkal polanya karena rasanya tidak adil, atau membesarkan polanya sampai seolah seluruh jenis kelamin adalah pelaku.

Yang Harus Dibenahi Lebih Dulu Adalah Diri Laki-laki Itu Sendiri

Kalau mayoritas pelaku kejahatan — terutama yang berdarah — adalah laki-laki, maka pembenahan utamanya juga ada di laki-laki. Bukan slogan. Bukan menyalahkan “sistem” sampai orangnya hilang. Laki-laki harus mengurus emosinya sendiri: amarah, gengsi, nafsu menguasai, takut kalah, lapar status. Itulah bahan bakar yang paling sering berubah menjadi tinju, senjata, tipu daya, dan perang.

Semua laki-laki di dunia ini perlu menganggap bahwa ini adalah urusan bersama pribadi sesama laki-laki, bukan urusan “laki-laki yang lain”. Jangan gengsi. Yang tidak merampok tetap hidup di dunia yang dirusak oleh laki-laki yang merampok. Yang tidak membunuh tetap mewarisi nama baik atau nama buruk dari pola yang sama. Jadi, tanggung jawabnya bukan “saya tidak pernah membunuh, selesai.” Tanggung jawabnya: jangan menambah pola itu. Jangan merayakan kejahatan dan kekerasan sebagai kejantanan. Jangan membiarkan amarah jadi hukum. Jangan mengira kekuasaan otomatis berhak dipakai.

Pembenahan diri laki-laki itu konkret. Belajar menahan impuls. Belajar kalah tanpa membalas. Belajar tidak mengubah perempuan, anak, saingan, atau negara menjadi sasaran ketika ego terluka. Belajar bahwa kekuatan tanpa kendali emosi hanya menghasilkan reruntuhan — dan reruntuhan itu, sepanjang sejarah, paling sering ditandatangani laki-laki.

Perempuan punya dosanya sendiri. Itu tidak dihapus. Tapi jangan pakai dosa perempuan sebagai perisai. Mayoritas kekacauan yang direncanakan dan dijalankan dengan sadar, dari dulu sampai sekarang, dikerjakan laki-laki. Maka yang pertama harus duduk, merenung, dan memperbaiki dirinya adalah laki-laki. Bukan sebagai hukuman kolektif. Sebagai pekerjaan yang memang jatuh ke pangkuan mereka.

Catatan Sumber & Arsip Data

UNODC, Global Study on Homicide 2023; data penjara UNODC 2024; statistik penangkapan dan penuntutan Amerika Serikat dan Inggris; ringkasan kriminologi perbandingan laki-laki dan perempuan pada kejahatan kekerasan dan harta benda.